Secuplik Kisah Sayyidah Nargis Ibunda Imam Almahdi

“Rindu Suci”

Advertisements

Dinegri iraq negri seribu satu malam dan seribu satu cerita, tepatnya dikota samarra dikediaman Imam ali alhadi ayah Imam hasan alaskari.Suatu hari imam ali alhadi memanggil seorang sahayanya yang setia bernama basyar al ansori. Imam hadi berkata kepadanya 

“wahai Basyar, engkau berasal dari kaum Anshar, yang selalu setia kepada kami selama ini. Karena itu, aku telah memilihmu untuk menjalankan sebuah misi penting”

Imam Hadi as kemudian menulis surat dalam bahasa romawi, lalu menutupnya dan diberi cap khusus milik Imam. Beliau as lalu memberikan surat itu beserta satu kantong berisikan 220 uang emas dinar. Basyar diperintahkan untuk pergi ke Baghdad dan menunggu di jembatan sungai Furat. 

Imam mengatakan pada Basyar bahwa di tepi sungai Furat itu dia akan mendapati perahu-perahu yang membawa para tawanan perempuan yang akan dijual sebagai budak. perhatikanlah dari jauh, akan ada seorang pedagang budak bernama Umar bin Yazid an-nakhas. Tunggu sampai dia menggunakan pakaian sutra.

Ia membawa seorang perempuan terhormat yang menggunakan cadar dan menolak membuka cadarnya, dan menolak siapapun menyentuhnya. Dia akan berteriak dalam bahasa Romawi untuk menghindarkan dirinya dari penodaan jelas Imam Ali alhadi as.

Selanjutnya, imam menambahkan, seorang pembeli akan mengagumi kesuciannya, sehingga menawarkan uang 300 dinar kepada pedagang budak. Perempuan itu akan berkata padanya, ” aku tidak menginginkanmu, meskipun kau menggunakan baju raja Sulaiman dan memiliki kerajaannya, jadi jangan buang-buang uangmu untukku.”

Si pedagang akan berkata, ” apa maksudmu? Bagaimanapun, engkau akan kujual!’ lalu perempuan itu akan menjawab. ” Tunggulah sebentar jangan terburu-buru? Aku akan memilih pembeli yang disukai hatiku, yaitu pembeli yang setia dan jujur.’ 

“Pada saat itu” kata Imam kepada basyar, “datangilah pedagang budak itu dan katakan padanya bahwa engkau membawa surat dari seorang pria mulia yang ditulis dalam bahasa Romawi. Tunjukkan surat ini pada perempuan itu. Jika dia setuju, maka belilah budak perempuan itu.”

Setelah mendengar penjelasan dari Imam.Basyr pun bergegas meninggalkan samara menjalankan tugas yang telah diberikan kepadanya. Ia pergi memacu kudanya menuju bahghdad ke tepian sungai furat.

Sesampai disungai furat. Sebuah sungai yang luas, mengalir air yang  jernih dan deras ditumbuhi sekitarnya rerumput ilalang. Benar saja Ia menyaksikan kejadian seperti yang dikatakan imam, ia melihat banyak perahu2 yang membawa tawanan perempuan yang akan dijual sebagai budak.

Ia juga menyaksikan ada seorang perempuan dengan karekteristik seperti yang dikatakan Imam Hadi as. Basyar segera menyerahkan surat imam Hadi as kepadanya.

Perempuan itu menangis setelah membaca isi surat tersebut, lalu segera berkata kepada penjualnya, ” juallah aku kepada pemilik surat ini!” setelah tawar menawar, akhirnya si penjual menerima harga sejumlah uang yang telah diberikan oleh Imam Ali alhadi as kepada Basyar. 

Basyar melihat perempuan itu tersenyum senang. Lantas, Basyar pun membawanya pergi menggunakan kuda yang telah disiapkan untuknya menuju samara tempat kediaman imam.

Didalam perjalanan Basyar melihat perempuan itu kembali membuka surat dari Imam, menciumnya dan meletakkan dikedua kelopak matanya dengan haru.

Basyar pun bertanya, “mengapa engkau menciumi surat itu, padahal kamu tak tahu siapa penulisnya?’ perempuan itu menjawab, ” engkau tak tahu betapa mulianya keturunan Nabi Muhammad ! dengarkan aku baik-baik. Aku adalah Malika, anak Yashoa, putra kaisar romawi. Ibuku keturunan Shimeon, murid Isa putra Maryam.Aku akan menceritakan kepadamu kisah kehidupanku.

Ketika aku berusia 13 tahun, kakekku kaisar Romawi, berniat menikahkanku dengan keponakkannya. Dia mengundang 300 para pengikut Isa as, diantaranya adalah para pendeta dan 700 orang dari kalangan terhormat. Dia juga mengundang 4000 orang pejabat, pimpinan militer dan pembesar kabilah.

Malika melanjutkan, ” istana kaisar roma dihiasi dengan ornamen2 kristiani yang sakral , wewangian2 menyeruak kesuluruh istana. Mempelai lelaki dipersilahkan duduk di atas singgasana megah yang dikelilingi oleh lilin2 dan salib2 besar.

Para uskup mulai berdiri dan membaca injil mereka dengan penuh syahdu dan khusyuk , tak lama kemudian istana tiba-tiba berguncang. Membuat salib-salib berjatuhan, dan singgasana pun runtuh sehinga mempelai laki-laki terjatuh tak sadarkan diri. 

Para uskup menjadi pucat dan gemetar penuh cemas. Seorang uskup berkata, ” wahai Kaisar, biarkan kami pergi dari upacara ini agar kami tidak melihat tanda-tanda keruntuhan agama Kristiani.”

Kakekku menjadi marah. Dia segera memerintahkan agar salib ditegakkan kembali dan upacara pernikahan untuk terus dilanjutkan. Namun kejadian itu berulang kembali. Tamu-tamu berhamburan keluar istana karena takut.dan upacarapun akhirnya dihentikan.

Tak lama dari kejadian itu, Malika bermimpi. Dalam mimpinya, dia melihat Nabi Isa as dan Hawariyyun (murid setia Nabi Isa as) berkumpul ditempat yang anggun dan bersih. Lalu datanglah Nabi Muhammad saw, Imam Ali as disertai 11 putra keturunannya dengan penuh cahaya dan wibawa.

Nabi Muhammad saw berkata, ” wahai Ruhullah, aku datang untuk meminang anak putri washimu. Bernama Malika untuk dinikahkan dengan putraku ini!”  sambil menunjuk kearah Imam Hasan al-askari as yang tampan dan berkarisma. 

Lamaran pun diterima dengan suka cita, lalu dalam mimpi itu Nabi Muhammad saw memimpin akad nikah antara Imam Hasan Askari as dan Sayyidah Malika ra.

Malika tidak menceritakan mimpinya itu kepada siapapun, karena takut akan terjadi sesuatu. Namun, ia pun jauh cinta kepada Imam Hasan Askari yang ditemuinya dalam mimpinya.

Ia melanjutkan kisahnya dengan linangan airmata ” rinduku kepada Imam Askari membuatku enggan makan dan minum, hatiku gelisah. Hari demi hari, badanku semakin kurus lemah. 

Kakekku memanggil tabib, namun tak ada seorang tabib pun yang dapat mengobatiku. Sampai akhirnya, aku memohon kepada kakekku agar berhenti menyiksa para tawanan muslim dan melepaskan mereka. Setelah permintaanku dipenuhi, kesehatanku membaik dan selera makanku kembali” Demikian tutur Malika kepada Basyar.

Beberapa waktu kemudian, Malika kembali bermimpi. Kali ini dia didatangi dua perempuan yang bercahaya penuh kelembutan dan kasih sayang. 

Kedua perempuan itu adalah Sayyidah Maryam as dan Sayyidah Fathimah as. Ia tertunduk penuh takzim kepada kepada kedua wanita suci itu.

Sayyidah Fathimah as berkata kepada Malika, ‘jika engkau mencintai putraku dan ingin menikah denganya, engkau terlebih dahulu memeluk agama islam.’ ‘aku pun segera menggenggam erat tangan lembut Sayyidah Zahra as dan menerima islam.

Sayyidah Zahra as pun mempertemukanku dengan putranya, Imam Askari as yang telah lama kurindukan” demikian tutur Sayyidah Nargis ra. 

Beberapa hari kemudian, ia kembali bermimpi, kali ini bertemu dengan Imam Hasan askari penuh wibawa dan kharismatik. Malika bertanya kepada beliau, ” apa yang harus kulakukan untuk  bisa menjadi istrimu?”

Imam menjawab, “dalam waktu dekat, kakekmu akan mengirim pasukan untuk memerangi kaum muslimin. Ikutilah pasukan itu’’ Sayyidah Malika pun menuruti perkataan Imam Hasan as.

Ketika kakeknya menyiapkan bala tentara untuk bergerak, malika menyamar menjadi pelayan perempuan dan berjalan bersama rombongan pelayan. 

Namun didalam perjalanan akhirnya dia dan para pelayan lainnya malah tertawan oleh pasukan Muslim.

Dia hanya berdiam dan pasrah atas apa yang terjadi, ia tidak mengatakan kepada siapapun bahwa dirinya adalah Malika, cucu kaisar Romawi. Ketika si pedagang budak menanyakan namanya, dia menjawab, “namaku Nargis”.Dengan demikian, sejak saat itu Sayyidah Malika dipanggil Nargis.

Basyar mendengarkan dengan khusyuk cerita malika, mereka terus melanjutkan perjalanan menjejakan kaki kudanya. Malika memejamkan matanya penuh cinta dan kerinduan. Ujung kerudungnya tertiup angin membelai wajahnya. Malika terus melangkahkan kaki kuda menyongsong hidup barunya menembus kegelapan menuju cahaya.

by -ms-

Keadilan yang Terasing

“Dengan nama agama mereka mencari pembenaran untuk meloloskan kepentingan mereka”

Kita melihat sekarang2 ini betapa banyak ayat2 alquran digunakan sebagai sarana intoleransi. Masyarakat banyak tertipu dengan merka yang berjubah agama. Dengan nama agama mereka mencari pembenaran untuk meloloskan kepentingan mereka.

Dahulu ada klompok khawarij yang rupa2 mereka dislubungi oleh ‘aksesoris’ kesalehan. Kening2 mereka bertanda hitam bekas sujud yang lama dalam sholat. Mereka menghapal ayat2 suci alquran, melakukan sholat hingga larut malam, tergesa gesa dalam melakukan ibadah. Kuat dalam prinsipnya, mengiginkan untuk mengorbankan dirinya dijalan Allah. 

Berkeinginan untuk menghancurkan orang2 kafir. Selogan mereka tauhid ” la hukma illa lillah ” tiada pemerintahan kecuali pemerintahan Allah. Semangat mereka meledak ledak. 

Namun agama yang dipahaminya secara dogmatis , fanatik , jahil,orang yang berbeda dengan mereka adalah musuh dan antek kafir, membuang jauh rasionalitas, membuat sumpah2 palsu, menyesatkan orang lain.

Mereka ingin berbuat untuk islam tapi tanpa disadari menjadi alat ‘suci’ untuk meloloskan totalitas kejahatan. Agama digunakan untuk mengubur makna agama itu sendiri.

Dan ideologi itu terus ada dari masa ke masa, hingga hari ini kita melihat pengaruh ideologinya semakin besar dan mendapatkan tempat. Ditengah hiruk pikuk seperti ini dan diantara berbagai tipu daya dan godaan, apakah masyarakat yang memliki mental egosentris yang kuat mampu menemukan seberkas cahaya Ali as dan husain as, mempunyai kesadaran untuk mengikutinya. Menemukanya dipengasingan kesendirianya dalam keteraniayanya menghadapi kejahilan. 

Dalam masyrakat semacam ini, para penindas, para korouptor masuh2 kemanusian, mengatur kemandekan umat dan melumpuhkan kesadaran dan pemikiran. Mengatur ulama2 mereka sendiri ditampilkan sebagai simbol religiuitas dan mengajak orang untuk bersumpah setia. Menyingkarkan orang2 sederhana dan ikhlas pendamba keadilan. 

Ali bin abi tholib berkata ” orang2 yang tulus, sadar dan ikhlas terasing dari arus utama kehidupan sosial, tidak dikenal dan terhinakan, hati mereka penuh dengan penderitaan dan berkabung , jiwa mereka tersiksa sedih, dikecilkan hatinya, dikalahkan dan disisihkan, sendiri dan terasing. “

by -ms-

Agama Kedok

“Tapi agama telah banyak dijungkir balikkan menjadi kedok kepentingan manusia”

Ironis..

Agama tidak sesederhana praktek ritualitas. Tapi agama telah banyak dijungkir balikkan menjadi kedok kepentingan manusia. Agama menjadi alat paling jitu disepanjang sejarah untuk menyetir dan mengontrol manusia dari mulai cara berfikir hinga cara bertindak.

Jika dalam mengimani agama jika tidak dilandasi dengan rasionalitas dan fitrah, maka agama menjadi instrumen terbesar dalam perbudakan dan kebodohan umat manusia. Karena sifatnya yang irasional dari ‘langit’ menjadi alasan pembenaran untuk meloloskan kepntingan sistem, perbudakan, kasta, dan lain-lain.

Dengan nama agama mereka memonopoli kebenaran. Kebenaran menjadi bnar jika sejalan dengan kepentingan mereka. Petunjuk hanya milik mereka. Selain mereka adalah salah. Orang yang berbeda adalah musuh. Menyebabkan fanatis dan radikalis dalam cara berfikir dan menyikapi perbedaan.

Perbedaan menjadi alasan membenci, menyesatkan , peperangan hingga menumpahkan darah. Hilangnya rasa kepeduliaan untuk menjunjung tinggi hak hak sesama manusia.

Ironi …

Agama yang semestinya membawa perbaikan pada umat manusia,semakin seorang meyakini agama selanyaknya semakin besar nilai keluhuranya bukan sebaliknya..

by -ms-