Keadilan yang Terasing

“Dengan nama agama mereka mencari pembenaran untuk meloloskan kepentingan mereka”

Advertisements

Kita melihat sekarang2 ini betapa banyak ayat2 alquran digunakan sebagai sarana intoleransi. Masyarakat banyak tertipu dengan merka yang berjubah agama. Dengan nama agama mereka mencari pembenaran untuk meloloskan kepentingan mereka.

Dahulu ada klompok khawarij yang rupa2 mereka dislubungi oleh ‘aksesoris’ kesalehan. Kening2 mereka bertanda hitam bekas sujud yang lama dalam sholat. Mereka menghapal ayat2 suci alquran, melakukan sholat hingga larut malam, tergesa gesa dalam melakukan ibadah. Kuat dalam prinsipnya, mengiginkan untuk mengorbankan dirinya dijalan Allah. 

Berkeinginan untuk menghancurkan orang2 kafir. Selogan mereka tauhid ” la hukma illa lillah ” tiada pemerintahan kecuali pemerintahan Allah. Semangat mereka meledak ledak. 

Namun agama yang dipahaminya secara dogmatis , fanatik , jahil,orang yang berbeda dengan mereka adalah musuh dan antek kafir, membuang jauh rasionalitas, membuat sumpah2 palsu, menyesatkan orang lain.

Mereka ingin berbuat untuk islam tapi tanpa disadari menjadi alat ‘suci’ untuk meloloskan totalitas kejahatan. Agama digunakan untuk mengubur makna agama itu sendiri.

Dan ideologi itu terus ada dari masa ke masa, hingga hari ini kita melihat pengaruh ideologinya semakin besar dan mendapatkan tempat. Ditengah hiruk pikuk seperti ini dan diantara berbagai tipu daya dan godaan, apakah masyarakat yang memliki mental egosentris yang kuat mampu menemukan seberkas cahaya Ali as dan husain as, mempunyai kesadaran untuk mengikutinya. Menemukanya dipengasingan kesendirianya dalam keteraniayanya menghadapi kejahilan. 

Dalam masyrakat semacam ini, para penindas, para korouptor masuh2 kemanusian, mengatur kemandekan umat dan melumpuhkan kesadaran dan pemikiran. Mengatur ulama2 mereka sendiri ditampilkan sebagai simbol religiuitas dan mengajak orang untuk bersumpah setia. Menyingkarkan orang2 sederhana dan ikhlas pendamba keadilan. 

Ali bin abi tholib berkata ” orang2 yang tulus, sadar dan ikhlas terasing dari arus utama kehidupan sosial, tidak dikenal dan terhinakan, hati mereka penuh dengan penderitaan dan berkabung , jiwa mereka tersiksa sedih, dikecilkan hatinya, dikalahkan dan disisihkan, sendiri dan terasing. “

by -ms-

Agama Kedok

“Tapi agama telah banyak dijungkir balikkan menjadi kedok kepentingan manusia”

Ironis..

Agama tidak sesederhana praktek ritualitas. Tapi agama telah banyak dijungkir balikkan menjadi kedok kepentingan manusia. Agama menjadi alat paling jitu disepanjang sejarah untuk menyetir dan mengontrol manusia dari mulai cara berfikir hinga cara bertindak.

Jika dalam mengimani agama jika tidak dilandasi dengan rasionalitas dan fitrah, maka agama menjadi instrumen terbesar dalam perbudakan dan kebodohan umat manusia. Karena sifatnya yang irasional dari ‘langit’ menjadi alasan pembenaran untuk meloloskan kepntingan sistem, perbudakan, kasta, dan lain-lain.

Dengan nama agama mereka memonopoli kebenaran. Kebenaran menjadi bnar jika sejalan dengan kepentingan mereka. Petunjuk hanya milik mereka. Selain mereka adalah salah. Orang yang berbeda adalah musuh. Menyebabkan fanatis dan radikalis dalam cara berfikir dan menyikapi perbedaan.

Perbedaan menjadi alasan membenci, menyesatkan , peperangan hingga menumpahkan darah. Hilangnya rasa kepeduliaan untuk menjunjung tinggi hak hak sesama manusia.

Ironi …

Agama yang semestinya membawa perbaikan pada umat manusia,semakin seorang meyakini agama selanyaknya semakin besar nilai keluhuranya bukan sebaliknya..

by -ms-